Usaha

Jenis Ayam Petelur di Indonesia dan Kategori Usahanya

Ayam petelur di Indonesia tidak hanya bisa dibedakan berdasarkan warna telur atau jenis ayamnya.

H
Hadi
โ€ข ๐Ÿ“… 30 Sep 2026 โ€ข โฑ๏ธ 3 min baca โ€ข ๐Ÿ‘๏ธ 0x dibaca

Jenis Ayam Petelur di Indonesia dan Kategori Usahanya

Ayam petelur di Indonesia tidak hanya bisa dibedakan berdasarkan warna telur atau jenis ayamnya. Bagi orang yang ingin memulai usaha, ada dua hal yang perlu dipisahkan: jenis/strain ayam dan skala usaha.

Secara resmi, kegiatan budidaya ayam ras petelur masuk dalam KBLI 01462 – Budidaya Ayam Ras Petelur, yaitu usaha peternakan yang menghasilkan telur konsumsi dan produk lainnya. Kode tersebut tetap digunakan dalam KBLI 2025.

1. Ayam ras petelur cokelat

Ini merupakan kelompok ayam petelur yang banyak dijumpai dalam usaha telur konsumsi di Indonesia. Beberapa strain yang dikenal antara lain:

  • ISA Brown
  • Lohmann Brown
  • Hy-Line Brown
  • Hisex Brown
  • Bovans Brown

Sumber Kementerian Pertanian mencatat bahwa telur konsumsi yang umum di Indonesia berasal dari ayam ras petelur tipe cokelat.

ISA Brown sendiri merupakan salah satu strain yang digunakan dalam usaha petelur di Indonesia. Bahkan, dokumen Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan mencantumkan ISA Brown sebagai salah satu strain bibit niaga ayam ras petelur.

Untuk gambaran performa, pedoman Kementerian Pertanian mencantumkan Hy-Line Brown, Lohmann Brown, Hisex Brown, dan ISA Brown sebagai strain yang digunakan dalam produksi bibit unggas.

2. Ayam petelur putih

Selain tipe cokelat, ada ayam petelur yang menghasilkan telur dengan kerabang putih. Kelompok ini juga digunakan dalam produksi telur komersial, meskipun telur cokelat lebih umum dijumpai dalam konteks peternakan rakyat Indonesia.

Perbedaannya bukan sekadar warna telur. Strain memiliki karakteristik produksi, konsumsi pakan, bobot telur, dan manajemen yang berbeda sehingga pemilihan ayam sebaiknya disesuaikan dengan tujuan usaha.

3. Ayam lokal yang dipelihara untuk telur

Tidak semua usaha telur harus menggunakan ayam ras.

Ada pula ayam lokal dan hasil persilangannya yang dipelihara untuk menghasilkan telur. Dalam KBLI 2025, kegiatan ini masuk kategori berbeda, yaitu 01464 – Budi Daya Ayam Lokal dan Persilangannya.

Salah satu contohnya adalah Ayam KUB. Kementerian Pertanian menyebut KUB berpotensi dikembangkan sebagai ayam petelur sekaligus ayam kampung pedaging. Data yang dicantumkan dalam publikasi tersebut menunjukkan produksi sekitar 180 butir telur/induk/tahun, meskipun performa aktual tentu bergantung pada pemeliharaan.


Lalu, bagaimana membagi kategori usaha?

Ini bagian yang sering membingungkan.

Jenis ayam tidak sama dengan kategori usaha.

Misalnya:

50 ekor ISA Brown = usaha ayam petelur skala kecil.

Sedangkan:

5.000 ekor ISA Brown = masih jenis ayam yang sama, tetapi skala usahanya jauh berbeda.

Jadi, untuk membahas usaha, lebih mudah menggunakan jumlah ayam produktif sebagai gambaran praktis.

Skala praktis Populasi Gambaran usaha
Rumahan 10–50 ekor Telur untuk konsumsi sendiri + dijual ke tetangga
Mikro 50–500 ekor Mulai menjadi usaha sampingan/rumahan
Kecil 500–2.000 ekor Sudah membutuhkan kandang dan manajemen rutin
Menengah 2.000–10.000 ekor Usaha komersial dengan produksi telur rutin
Besar >10.000 ekor Peternakan komersial dengan manajemen lebih kompleks
Catatan: pembagian tabel di atas adalah kategori praktis untuk memudahkan pembaca dan perencanaan usaha, bukan klasifikasi resmi tunggal pemerintah berdasarkan jumlah ekor. Salah satu kajian Kementerian Pertanian, misalnya, menggunakan batas kurang dari 10.000 ekor untuk menggambarkan peternak rakyat dan lebih dari 10.000 ekor untuk pola perusahaan dalam konteks Jawa Barat.

Jadi, ayam mana untuk usaha kecil?

Untuk orang yang baru mulai, pilihannya bisa dibedakan seperti ini:

10–50 ekor

Bisa menggunakan ISA Brown, Lohmann Brown, Hy-Line Brown, atau ayam lokal/KUB.

50–500 ekor

Ayam ras petelur mulai menarik karena produksi telur lebih teratur dan jumlah telur yang dihasilkan cukup untuk dipasarkan secara rutin.

500–2.000 ekor

Sudah perlu menghitung secara serius biaya DOC/pullet, pakan, vaksin, tenaga kerja, kandang, listrik, kematian, harga telur, dan pemasaran.

Di atas 2.000 ekor

Perhitungan bisnis menjadi semakin penting karena pakan merupakan komponen biaya yang sangat besar. Salah satu publikasi Kementerian Pertanian menyebut pakan dapat mencapai sekitar 70–75% dari total biaya produksi pada usaha ayam ras petelur.

Sementara itu, skala peternakan ras di Indonesia memang sudah sangat besar. Data pemerintah menunjukkan sekitar 62,91% populasi ayam ras petelur berada di Pulau Jawa, berdasarkan data yang dicantumkan dalam publikasi Ditjen PKH.

Yang perlu dipahami calon peternak

Kalau tujuan akhirnya adalah membangun usaha telur, jangan hanya bertanya:

"Ayam petelur jenis apa yang paling bagus?"

Pertanyaan yang lebih berguna adalah:

Berapa ekor yang akan dipelihara → jenis ayam apa → berapa konsumsi pakan → berapa produksi telur → siapa pembelinya → berapa biaya produksi per butir → berapa margin usaha.

Karena ayam dengan produksi tinggi belum tentu menghasilkan keuntungan tinggi kalau harga pakan dan biaya pemeliharaannya tidak terkendali.

Untuk konteks usaha, ISA Brown, Lohmann Brown, Hy-Line Brown, dan strain petelur komersial lainnya lebih tepat dibahas sebagai pilihan ayam ras petelur, sedangkan KUB dan ayam lokal/persilangan berada pada jalur usaha yang berbeda. Pemerintah sendiri memisahkan budidaya ayam ras petelur (01462) dengan budidaya ayam lokal dan persilangannya (01464).